Pasokan Berkurang, Harga Cabai Merah di Pekanbaru Meroket hingga Rp120 Ribu

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:33:20 WIB

PEKANBARU (Cakrabangsa.com) - Harga cabai merah di Kota Pekanbaru terus merangkak naik. Harganya bahkan mencapai Rp115.000 hingga Rp120.000 per kilogram di tingkat eceran.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Pekanbaru. Tim langsung melakukan inspeksi mendadak (sidak) harga dan pasokan bahan pokok di Pasar Induk AKAP, Jalan Air Hitam, Senin (5/10/2026) malam.

Sidak dipimpin Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Pekanbaru, Zulhelmi Arifin. Bersama jajaran TPID, Zulhelmi meninjau sejumlah kios pedagang untuk melihat langsung perkembangan harga sekaligus memastikan ketersediaan pasokan bahan pokok yang masuk ke Pekanbaru dari berbagai daerah penghasil.

Dari hasil pemantauan, kenaikan paling mencolok terjadi pada komoditas cabai merah. Harga cabai di Pasar Induk Pekanbaru berbeda-beda, tergantung daerah asal dan harga pasokan dari daerah penghasil.

Zulhelmi mengatakan, cabai yang didatangkan dari Lampung saat ini berada di kisaran Rp75.000 per kilogram. Sementara cabai asal Medan dan Aceh dijual sekitar Rp80.000 per kilogram.

Sedangkan cabai dari Sumatera Barat, khususnya Bukittinggi, harganya mencapai Rp95.000 per kilogram.

"Kalau cabai dari Sumatera Barat, Bukittinggi, itu harganya Rp95.000. Jadi memang cukup mahal," kata Zulhelmi yang akrab disapa Ami, usai sidak.

Menurutnya, harga cabai di tingkat Pasar Induk bahkan bisa mencapai sekitar Rp90.000 per kilogram. Kondisi tersebut kemudian mendorong kenaikan harga di tingkat eceran hingga Rp115.000-Rp120.000 per kilogram.

Sementara cabai asal Lampung dan Medan yang masuk dengan harga lebih rendah diperkirakan dijual di pasar eceran sekitar Rp90.000-Rp95.000 per kilogram.

Ami menjelaskan, tingginya harga cabai dipengaruhi berkurangnya produksi di sejumlah daerah penghasil. Penurunan pasokan tersebut terjadi akibat siklus panen yang membuat ketersediaan cabai untuk sementara menurun.

"Pedagang juga menyampaikan bahwa harga modalnya tinggi karena terjadi siklus panen. Di daerah penghasil produksinya berkurang," ujarnya.

Di sisi lain, kebutuhan cabai tetap tinggi. Pasokan dari sejumlah daerah penghasil juga tengah diperebutkan untuk memenuhi kebutuhan di Pulau Jawa, khususnya DKI Jakarta dan Banten.

"Yang dari Lampung juga berebutan untuk jual ke Jawa, terutama DKI Jakarta dan Banten untuk mencukupi kebutuhan cabai di daerah Jawa. Pedagang kita juga berebutan untuk mendapatkan barang agar bisa dijual di Pekanbaru," jelasnya.

Meski harga cabai mengalami kenaikan, Zulhelmi memastikan harga dan pasokan sejumlah bahan pokok lainnya masih dalam kondisi terkendali.

"Yang lain insyaallah semua masih terkendali, seperti sayur-mayur, bawang dan lain-lain. Tinggal cabai ini saja yang menjadi PR kita," pungkasnya.

Terkini