Saat Algoritma Mengatur Belanja Kita: Benarkah Konsumen Masih Bebas?

Selasa, 17 Maret 2026 | 13:50:46 WIB

PEKANBARU (Cakrabangsa.com) - Perkembangan pesat ekonomi digital membawa perubahan besar dalam cara masyarakat berbelanja. Jika sebelumnya konsumen dianggap sebagai pengambil keputusan yang rasional dan bebas, kini asumsi tersebut mulai dipertanyakan. 

Di tengah dominasi platform digital, pilihan yang diambil konsumen ternyata tidak sepenuhnya lahir dari preferensi pribadi, melainkan juga dipengaruhi oleh sistem algoritma yang bekerja di balik layar.

Mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Riau, Charly Simanullang mengatakan, setiap aktivitas digital mulai dari pencarian produk, klik konten, hingga interaksi di media sosial meninggalkan jejak data. 

"Data ini kemudian diolah oleh teknologi kecerdasan buatan untuk memprediksi minat pengguna dan menyajikan rekomendasi yang dinilai paling relevan. Hasilnya, konsumen disuguhkan pengalaman belanja yang cepat, personal, dan efisien," ujar Charly, Selasa (17/3/2026).

Namun di balik kemudahan tersebut, muncul persoalan mendasar apakah konsumen benar-benar bebas memilih?

Dalam praktiknya, mayoritas konsumen cenderung memilih produk yang muncul di halaman pertama pencarian atau dalam rekomendasi platform. Produk di luar jangkauan visibilitas algoritma hampir tidak memiliki peluang untuk dilirik. Artinya, algoritma tidak lagi sekadar alat bantu, melainkan telah menjadi “penentu” arah pilihan pasar.

"Fenomena ini menandai pergeseran besar dalam persaingan bisnis. Jika sebelumnya perusahaan berlomba melalui kualitas produk dan kekuatan merek, kini mereka juga harus bersaing dalam “arena algoritma”," ungkapnya.

Visibilitas digital menjadi kunci utama. Produk yang mampu menyesuaikan diri dengan sistem platform lebih berpeluang untuk dikenal dan dibeli, terlepas dari kualitasnya.

Para peneliti menyebut kondisi ini sebagai algorithmic consumerism, yakni situasi di mana perilaku konsumsi dibentuk oleh sistem komputasi. Algoritma tidak hanya membaca preferensi, tetapi juga memperkuatnya melalui rekomendasi berulang. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi mempersempit ruang eksplorasi konsumen dan membentuk pola konsumsi yang semakin terbatas.

Di satu sisi, teknologi digital memang meningkatkan efisiensi dan kemudahan akses informasi. Namun di sisi lain, dominasi algoritma berisiko mengurangi otonomi konsumen dalam mengambil keputusan. Lebih jauh, kekuatan platform digital dalam mengendalikan distribusi informasi juga berpotensi menciptakan konsentrasi kekuatan ekonomi pada segelintir pihak.

"Kondisi ini menjadi tantangan bagi berbagai pihak. Pelaku usaha dituntut tidak hanya memahami perilaku konsumen, tetapi juga cara kerja algoritma. Regulator perlu memastikan transparansi sistem digital agar tidak menimbulkan distorsi pasar. Sementara itu, konsumen dituntut lebih kritis dan sadar terhadap bagaimana pilihan mereka dibentuk," tukasnya.

Ke depan, masa depan pasar digital akan sangat bergantung pada keseimbangan antara kecanggihan teknologi dan kebebasan manusia. Algoritma memang memudahkan dalam menyaring jutaan informasi, tetapi juga memiliki peran besar dalam mengarahkan perhatian dan keputusan.

Pertanyaannya kini menjadi semakin relevan di era serba digital ini, siapa sebenarnya yang mengendalikan pilihan konsumen, atau algoritma?

Terkini