Kualitas Udara Memburuk, Pemko Pekanbaru Terapkan PJJ Dua Hari untuk Lindungi Anak

Senin, 07 September 2026 | 00:29:19 WIB

PEKANBARU (Cakrabangsa.com) - Kesehatan anak menjadi pertimbangan utama Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru dalam mengambil kebijakan pembelajaran di tengah memburuknya kualitas udara.

Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho memutuskan menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama dua hari, yakni Senin (7/9/2026) dan Selasa (8/9/2026). Kebijakan tersebut berlaku bagi peserta didik PAUD, TK, SD, dan SMP yang berada di bawah kewenangan Pemko Pekanbaru.

Keputusan itu diambil setelah Pemko Pekanbaru melakukan evaluasi terhadap perkembangan kualitas udara dalam beberapa hari terakhir. Pemerintah memilih langkah pencegahan untuk mengurangi paparan udara tidak sehat, terutama terhadap anak-anak yang termasuk kelompok rentan.

“Kita tentu tidak bisa membuat setiap keputusan menyenangkan semua orang. Ada orang tua yang mungkin ingin anaknya tetap sekolah seperti biasa, ada juga yang khawatir dengan kondisi udara. Tetapi ketika menyangkut kesehatan, terutama kesehatan anak-anak kita, bagi kami keselamatan dan kesehatan harus menjadi nomor satu,” kata Agung usai rapat evaluasi, Minggu (6/9/2026) malam.

Agung menegaskan, penerapan PJJ bukan keputusan yang diambil secara tergesa-gesa. Pemko Pekanbaru telah memantau perkembangan kualitas udara secara berkala dalam dua hingga tiga hari terakhir.

Pemantauan dilakukan dengan mengacu pada data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta hasil pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pekanbaru.

Berdasarkan laporan BMKG, konsentrasi PM2,5 pada pukul 19.00 WIB tercatat mencapai 199,23 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah dan salah satu dasar pengambilan langkah pencegahan, khususnya untuk melindungi kelompok masyarakat rentan.

“Jadi keputusan ini bukan berdasarkan perkiraan kita sendiri. Kita melihat data BMKG, kemudian DLH juga terus melakukan pemantauan melalui ISPU secara berkala. Setelah itu kita dengarkan pertimbangan Dinas Kesehatan dan dokter spesialis paru. Dari situlah keputusan ini kita ambil,” jelas Agung.

Pertimbangan kesehatan semakin menguat setelah dokter spesialis paru dr. Indra Yovi bersama Dinas Kesehatan memberikan masukan mengenai dampak kualitas udara terhadap kesehatan masyarakat.

Berdasarkan laporan pelayanan kesehatan, terjadi peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), termasuk pada anak-anak.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat dengan penyakit penyerta merupakan kelompok yang lebih rentan terhadap paparan udara tidak sehat.

Atas pertimbangan tersebut, Pemko Pekanbaru memilih mengurangi sementara aktivitas anak di luar rumah.

“Atas pertimbangan kesehatan itu, untuk satu sampai dua hari ini kita kurangi dulu paparan terhadap anak-anak. Mereka bukan diliburkan. Anak-anak tetap mendapatkan layanan pendidikan, hanya sementara dilakukan melalui sistem daring dari rumah,” tegas Agung.

Menurut Agung, PJJ hanya diberlakukan sementara sambil pemerintah memantau perkembangan kualitas udara dan mengevaluasi data terbaru.

Di tengah kondisi udara yang menjadi perhatian, Agung memastikan tidak terdapat titik api di wilayah Kota Pekanbaru.

Meski demikian, kondisi asap dan kualitas udara dapat berubah sewaktu-waktu. Pergerakan serta arah angin memungkinkan asap dari wilayah lain masuk ke Pekanbaru sehingga kualitas udara dapat memburuk dalam waktu relatif cepat.

Karena itu, Pemko Pekanbaru bersama BMKG dan DLH akan terus melakukan pemantauan secara berkala.

“Alhamdulillah, Pekanbaru sendiri zero titik api. Tetapi kondisi asap bisa berubah mengikuti arah angin. Karena itu kita tidak ingin berspekulasi. Pegangan kita tetap data dan pemantauan yang terus diperbarui,” ujarnya.

Harapan terhadap perbaikan kualitas udara juga muncul dari prakiraan cuaca BMKG. Berdasarkan pemaparan BMKG, pada 8, 9, dan 10 September terdapat peluang hujan di sejumlah wilayah Provinsi Riau, termasuk Pekanbaru.

Di sejumlah wilayah, potensi curah hujan bahkan diperkirakan dapat mencapai lebih dari 25 milimeter.

Pemko Pekanbaru berharap hujan turun secara lebih merata sehingga dapat membantu membersihkan udara sekaligus menekan dampak kabut asap.

Selain itu, upaya melalui teknologi modifikasi cuaca diharapkan dapat membantu mendorong dan memperluas wilayah turunnya hujan di Provinsi Riau.

“Ini tentu menjadi harapan kita. Tanggal 8, 9 dan 10 September ada peluang hujan di Riau, termasuk Pekanbaru. Kita berharap hujannya semakin merata sehingga kualitas udara kita segera membaik,” kata Agung.

Agung menegaskan, penerapan PJJ selama dua hari bukan berarti seluruh aktivitas masyarakat di Pekanbaru dihentikan.

Kegiatan ekonomi dan pelayanan publik tetap berjalan seperti biasa. Masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar rumah juga akan mendapat perhatian pemerintah.

Untuk mengurangi risiko paparan udara tidak sehat, Pemko Pekanbaru akan membagikan masker di sejumlah titik aktivitas warga, seperti pasar, terminal, halte, dan persimpangan jalan.

Dengan langkah tersebut, pemerintah berharap aktivitas masyarakat tetap berjalan, namun risiko paparan udara tidak sehat dapat ditekan sembari menunggu perkembangan kondisi cuaca dan kualitas udara dalam beberapa hari ke depan.

Terkini