Adopsi Renewable Natural Gas Di Indonesia: Tinjauan Literatur Sistematis Tentang Green Trust, Perceived Value, Dan Keterlibatan Digital

Adopsi Renewable Natural Gas Di Indonesia: Tinjauan Literatur Sistematis Tentang Green Trust, Perceived Value, Dan Keterlibatan Digital
Penulis | Charly Simanullang - Mahasiswa Program Doktor Ekonomi dan Management Bisnis Universitas Riau

Transisi energi bukan semata persoalan teknologi, infrastruktur, atau kebijakan publik. Dalam perspektif manajemen pemasaran strategik, transisi energi termasuk adopsi Renewable Natural Gas (RNG) pada hakikatnya adalah persoalan penerimaan pasar, kepercayaan publik, dan pembentukan nilai. Energi bersih tidak akan pernah menjadi arus utama apabila hanya diperlakukan sebagai proyek teknis, tanpa pendekatan pemasaran yang berakar pada pemahaman perilaku konsumen dan legitimasi sosial.

Artikel ini secara tepat menempatkan RNG dalam kerangka pemasaran modern yang berbasis green trust, perceived value, dan digital engagement. Ketiganya merupakan fondasi penting dalam membangun niat adopsi (adoption intention) di tengah masyarakat yang semakin kritis, rasional, dan digital-oriented. Dari sudut pandang pemasaran, energi bukan lagi sekadar komoditas, melainkan proposisi nilai sosial yang harus diyakini, dirasakan manfaatnya, dan dialami secara konsisten oleh konsumen.

Kepercayaan hijau (green trust) menjadi variabel kunci yang tidak dapat dinegosiasikan. Dalam pasar energi, konsumen berhadapan dengan risiko yang bersifat jangka panjang: risiko harga, risiko pasokan, dan risiko keberlanjutan. Oleh karena itu, keputusan adopsi tidak ditentukan oleh klaim ramah lingkungan semata, melainkan oleh sejauh mana konsumen mempercayai integritas institusi, kredibilitas informasi, dan konsistensi perilaku merek energi. Artikel ini menegaskan bahwa transparansi data, komunikasi ESG yang autentik, serta reputasi badan usaha yang bergerak dibidang energi berperan strategis dalam membangun ekosistem kepercayaan tersebut.

Lebih jauh, kepercayaan tidak akan terbentuk tanpa adanya nilai yang dirasakan (perceived value). Dalam literatur pemasaran, nilai tidak hanya dipahami secara ekonomis, tetapi juga secara sosial dan simbolik. RNG menawarkan efisiensi, kompatibilitas infrastruktur, dan kontribusi terhadap pengurangan emisi namun semua itu harus diterjemahkan menjadi manfaat yang relevan bagi konsumen. Ketika masyarakat merasakan bahwa penggunaan RNG bukan hanya rasional secara biaya, tetapi juga bermakna secara sosial dan moral, maka adopsi berubah dari kewajiban kebijakan menjadi pilihan sadar.

Di sinilah peran keterlibatan digital (digital engagement) menjadi sangat menentukan. Era pemasaran satu arah telah berakhir. Konsumen energi kini menuntut dialog, partisipasi, dan pengalaman. Platform digital, aplikasi layanan energi, serta media sosial bukan sekadar saluran informasi, melainkan arena pembentukan makna dan relasi jangka panjang. Artikel ini secara meyakinkan menunjukkan bahwa keterlibatan digital memperkuat hubungan antara kepercayaan dan niat adopsi, menjadikan konsumen bukan hanya pengguna energi, tetapi juga bagian dari narasi transisi energi nasional.

Dari sudut pandang akademik, integrasi Theory of Planned Behavior, Green Trust Model, dan kerangka pemasaran digital merupakan kontribusi konseptual yang signifikan. Model ini menegaskan bahwa sikap positif terhadap energi hijau tidak otomatis menghasilkan adopsi, kecuali dimediasi oleh nilai yang dirasakan dan diperkuat oleh kepercayaan. Dengan kata lain, pemasaran energi hijau harus bergerak dari pendekatan informatif menuju pendekatan relasional dan partisipatif.

Bagi praktisi dan pembuat kebijakan, implikasinya sangat jelas. Strategi pemasaran RNG tidak cukup berhenti pada edukasi teknis atau subsidi harga. Yang dibutuhkan adalah strategi pemasaran berbasis kepercayaan, didukung oleh komunikasi digital yang transparan, konsisten, dan berorientasi pengalaman. Badan usaha yang bergerak dibidang energi, memiliki posisi unik sebagai trust anchor yang dapat menjembatani kepentingan pasar, masyarakat, dan agenda keberlanjutan nasional.

Adopsi RNG di Indonesia akan ditentukan oleh kemampuan kita mengelola persepsi, membangun kepercayaan, dan menciptakan nilai yang dirasakan secara nyata oleh masyarakat. Artikel ini memberikan landasan ilmiah yang kuat untuk memahami bahwa transisi energi adalah proses sosial dan pemasaran, bukan semata proses teknokratis. Bagi akademisi, praktisi, dan pengambil kebijakan, kajian ini layak dijadikan rujukan utama dalam merancang strategi energi hijau yang berkelanjutan dan berorientasi kepada pasar. Untuk memahami kerangka konseptual, temuan literatur, dan implikasi strategisnya secara lebih mendalam, dapat membaca artikel lengkapnya melalui tautan berikut https://doi.org/10.37641/jimkes.v14i1.4848

Berita Lainnya

Index