1.948 Kasus ISPA Tercatat di Riau, Dinkes Perketat Antisipasi Dampak Kabut Asap

1.948 Kasus ISPA Tercatat di Riau, Dinkes Perketat Antisipasi Dampak Kabut Asap
Jalan Kubang Raya, Kabupaten Kampar diselimuti kabut asap, Selasa (25/8/2026) pagi.

PEKANBARU (Cakrabangsa.com) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Riau meningkatkan langkah pencegahan terhadap gangguan kesehatan masyarakat akibat kabut asap yang muncul menyusul kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.

Selain memantau perkembangan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), Dinkes Riau memperkuat koordinasi dengan dinas kesehatan kabupaten/kota, khususnya untuk memastikan kelompok masyarakat rentan mendapat perhatian dan perlindungan.

Kepala Dinkes Riau, Zulkifli, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan sejumlah daerah, termasuk Dinas Kesehatan Kabupaten Pelalawan. Pendataan dilakukan untuk memetakan ibu hamil, bayi dan kelompok rentan yang berada di wilayah terdampak kabut asap.

“Kami sudah kontak dengan Kepala Dinas Kesehatan Pelalawan untuk memetakan ibu hamil, bayi dan kelompok rentan yang terdampak kabut asap. Kami akan support asupan makanan tambahan dan vitamin,” kata Zulkifli, Selasa (25/8/2026).

Berdasarkan pemantauan Dinkes Riau, terdapat 445 kasus ISPA yang tercatat di empat kabupaten/kota selama periode 19 hingga 22 Agustus 2026.

Rinciannya, pada 19 Agustus tercatat 211 kasus, kemudian 71 kasus pada 20 Agustus. Selanjutnya, terdapat 108 kasus pada 21 Agustus dan 55 kasus pada 22 Agustus.

Pekanbaru menjadi salah satu daerah dengan jumlah kasus cukup tinggi. Pada 19 Agustus tercatat 97 kasus, kemudian 20 kasus pada 20 Agustus, 47 kasus pada 21 Agustus dan 13 kasus pada 22 Agustus.

Sementara itu, Kabupaten Kampar mencatat masing-masing 48, empat, enam dan tiga kasus. Kabupaten Pelalawan mencatat 44 kasus pada 19 Agustus, 26 kasus pada 20 Agustus dan 36 kasus pada 21 Agustus. Sedangkan Kabupaten Siak mencatat 22 kasus pada 19 Agustus.

Data Kementerian Kesehatan hingga 21 Agustus 2026 juga menunjukkan terdapat 1.948 kasus ISPA secara kumulatif di Riau. Selain ISPA, tercatat 43 kasus asma, 36 kasus iritasi kulit dan 16 kasus konjungtivitis.

Meski terdapat sejumlah kasus gangguan kesehatan, Zulkifli mengatakan kondisi tersebut belum menunjukkan peningkatan yang signifikan.

Namun, langkah pencegahan tetap diperkuat untuk menekan risiko masyarakat terpapar kabut asap, terutama ketika kualitas udara memburuk.

“Alhamdulillah, kasus ISPA ini dapat teratasi. Agar tidak terjadi peningkatan kasus, kami terus mengedepankan langkah preventif dengan mengimbau masyarakat agar mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar,” ujarnya.

Dinkes Riau juga memastikan fasilitas pelayanan kesehatan tetap siap menghadapi kemungkinan adanya warga yang membutuhkan penanganan akibat paparan kabut asap.

Puskesmas diminta menyiagakan tim layanan kegawatdaruratan. Selain itu, ketersediaan oksigen juga dipastikan, terutama untuk memberikan pertolongan awal kepada pasien yang mengalami gangguan pernapasan.

“Di Puskesmas sudah ada tim layanan emergency. Oksigen juga sudah disiapkan dan distandby-kan sebagai pertolongan pertama bagi pasien yang mengalami sesak napas,” kata Zulkifli.

Masyarakat juga diminta memperhatikan kondisi udara di dalam rumah. Ketika kabut asap semakin pekat, bukaan atau ventilasi yang memungkinkan asap masuk ke dalam rumah dapat dikurangi.

Perhatian khusus diberikan kepada kelompok rentan, seperti lansia, balita, ibu hamil serta masyarakat yang memiliki riwayat gangguan pernapasan. Kelompok tersebut diminta mengurangi paparan asap dan lebih berhati-hati ketika kualitas udara memburuk.

Bagi warga yang tetap harus beraktivitas di luar rumah, Dinkes mengingatkan pentingnya menggunakan masker. Masyarakat juga dianjurkan menjaga asupan cairan serta mengonsumsi makanan bergizi.

“Warga juga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan seperti sesak napas, mata perih atau mual,” imbaunya.

Dinkes Riau bersama dinas kesehatan kabupaten/kota dan fasilitas pelayanan kesehatan akan terus memantau kondisi masyarakat di daerah terdampak kabut asap.

Langkah tersebut dilakukan untuk menekan dampak kesehatan akibat karhutla sekaligus mencegah gangguan kesehatan berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

Berita Lainnya

Index