PEKANBARU (Cakrabangsa.com) - Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru memperkuat upaya pencegahan HIV/AIDS di kalangan pelajar SMP dan SMA. Langkah ini dilakukan menyusul laporan temuan kasus baru HIV/AIDS pada kelompok usia remaja.
Komitmen tersebut ditegaskan Wakil Wali Kota Pekanbaru, Markarius Anwar, saat memimpin rapat koordinasi pencegahan HIV/AIDS di lingkungan SMP dan SMA di aula Kompleks Perkantoran Pemerintah Tenayan Raya, Jumat (23/10/2026).
Markarius mengatakan, masa remaja merupakan fase peralihan yang membutuhkan perhatian khusus. Tingginya rasa ingin tahu yang tidak diimbangi kematangan emosi dapat membuat remaja rentan terpengaruh perilaku berisiko.
Berdasarkan laporan dokter voluntary counselling and testing (VCT) dari sejumlah puskesmas yang dibahas dalam rapat koordinasi Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) sekitar dua bulan lalu, kasus baru HIV/AIDS mulai ditemukan pada kelompok usia remaja.
Meski kasus yang dilaporkan lebih banyak berasal dari kalangan mahasiswa, Markarius mengingatkan bahwa perilaku berisiko dapat bermula sejak usia SMP maupun SMA.
"Karena itu, kita harus meningkatkan kewaspadaan. Saya mengundang Bapak dan Ibu hari ini karena keresahan saya. Pekanbaru ini kota besar dan jumlah kasusnya. Angka terbaru juga banyak berasal dari kalangan remaja," kata Markarius.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan tanpa penanganan serius. Pemko Pekanbaru perlu memperkuat kolaborasi dengan pihak sekolah, tenaga kesehatan, tokoh agama, serta berbagai unsur masyarakat untuk meningkatkan edukasi dan mencegah penularan sejak dini.
Markarius juga mendorong sosialisasi yang lebih intensif agar masyarakat memahami HIV/AIDS, cara penularannya, serta langkah-langkah pencegahan yang tepat.
Salah satu upaya yang dilakukan yakni melibatkan tokoh agama dalam menyampaikan pesan pencegahan. Ia mengaku telah meminta para ustaz dari Ikatan Keluarga Muslim Indonesia (IMI) untuk menyisipkan materi tentang pencegahan HIV/AIDS, penyalahgunaan narkoba, dan perilaku seksual berisiko dalam khotbah Jumat.
Markarius menjelaskan, penyalahgunaan narkoba juga dapat meningkatkan risiko penularan HIV, terutama apabila pengguna narkoba suntik berbagi jarum dengan orang lain. Karena itu, edukasi mengenai bahaya penggunaan jarum suntik secara bergantian perlu terus ditingkatkan.
Di sisi lain, ia menegaskan pentingnya penerapan prosedur kesehatan yang sesuai di fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk puskesmas dan rumah sakit, untuk mencegah penularan melalui penggunaan alat medis.
Markarius turut menyinggung laporan mengenai laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) sebagai salah satu kelompok yang menjadi perhatian dalam upaya pencegahan HIV/AIDS. Informasi tersebut, katanya, diperoleh saat berkunjung ke Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) DKI Jakarta dan Kementerian Kesehatan.
Ia menekankan bahwa pencegahan HIV/AIDS membutuhkan keterlibatan semua pihak, dengan mengedepankan edukasi yang tepat, pendekatan yang tidak diskriminatif, serta perlindungan terhadap kelompok rentan, khususnya generasi muda.
"Pemerintah kota berkomitmen penuh melindungi generasi muda kita. Kita tidak bisa tinggal diam. Kita harus berjuang bersama untuk mencegah HIV/AIDS," pungkasnya.