Waspada Musim Hujan! 779 Warga Pekanbaru Terserang DBD

Waspada Musim Hujan! 779 Warga Pekanbaru Terserang DBD
Ilustrasi

PEKANBARU (Cakrabangsa.com) - Memasuki musim penghujan, masyarakat Kota Pekanbaru diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Perubahan cuaca dari panas ke hujan berpotensi meningkatkan perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti yang menjadi penyebab penyakit tersebut.

Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Pekanbaru mencatat, sepanjang Januari hingga 5 November 2026, terdapat 779 warga yang terserang DBD. Dari jumlah tersebut, tiga orang dilaporkan meninggal dunia.

Sekretaris Diskes Kota Pekanbaru, Dedy Sambudi mengatakan, peningkatan kewaspadaan perlu dilakukan, terutama memasuki musim penghujan. Pasalnya, genangan air hujan yang tertampung di berbagai wadah dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk penyebab DBD.

Karena itu, masyarakat diminta tidak lengah dan mulai meningkatkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), terutama di lingkungan rumah masing-masing.

"Untuk itu, warga kita imbau agar selalu menjaga kebersihan lingkungan dengan menggalakkan gerakan 3M Plus, yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti," kata Dedy, Kamis (5/11/2026).

Berdasarkan data Diskes Pekanbaru, kasus DBD tersebar di 15 kecamatan. Kecamatan Tuah Madani menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 119 kasus. Disusul Marpoyan Damai sebanyak 111 kasus dan Bukit Raya 87 kasus.

Selanjutnya, Kecamatan Tenayan Raya mencatat 74 kasus, Binawidya 65 kasus, Payung Sekaki 61 kasus, Kulim 54 kasus, Rumbai 52 kasus, dan Lima Puluh 40 kasus.

Sementara itu, Kecamatan Rumbai Timur mencatat 38 kasus, Sail 21 kasus, Sukajadi 19 kasus, Rumbai Barat 18 kasus, Senapelan 15 kasus, dan Pekanbaru Kota menjadi wilayah dengan jumlah kasus paling sedikit, yakni lima kasus.

Dari total 779 kasus tersebut, tiga warga meninggal dunia. Masing-masing berasal dari Kecamatan Kulim, Sail, dan Tuah Madani.

Selain mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, Dedy juga meminta masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat apabila mengalami gejala demam tinggi.

Ia mengingatkan agar masyarakat tidak menganggap demam sebagai penyakit biasa, terutama jika suhu tubuh terus meningkat dan kondisi penderita semakin melemah.

Menurut Dedy, keterlambatan mendapatkan penanganan medis dapat memperburuk kondisi pasien dan berisiko menyebabkan kematian. Hal tersebut menjadi perhatian menyusul adanya tiga kasus kematian akibat DBD di Pekanbaru.

"Mungkin awalnya dikira demam biasa, tetapi akhirnya demam tinggi. Setiba di rumah sakit mengalami penurunan trombosit sehingga kondisi sangat lemah," pungkasnya.

Berita Lainnya

Index